Sore itu, sebelum pulang ke kost, aku memutuskan untuk singgah ke sebuah mall. Persediaan makanan aku sudah menipis. It's time to shopping..
Setelah puas belanja, aku berkeliling sambil cuci mata. Cukup banyak pengunjung yang datang sore itu. Tiba2 aku melihat orang berbondong-bondong menuju ke lantai atas. Ada apa disana? Aku penasaran. Tanpa pikir panjang, aku segera menaiki eskalator yang berada tepat di depanku.
***
Di depan sebuah toko pakaian, duduk sepasang ABG bersama seorang pria berkacamata, umurnya aku taksir sekitar 30an. Ah, pria itu? Rasanya aku pernah melihatnya. Dia mengintrogasi pasangan tersebut. Kelihatannya ada masalah besar yang sedang di selesaikan. Aku memperhatikan sicewek. Cantik juga, pikirku. Tapi aku hanya bisa melihat dari kejauhan. Cewek itu tertunduk, matanya terpejam. Seperti sangat menyesali perbuatanya. Di belakangnya ada orang yang menopang badannya agar tidakjatuh. Kasihan sekali, begitu berat beban yang di tanggungnya. Si cewek bicara terus terang tanpa memperdulikan cowok di sampingnya. Sang cowok hanya duduk terdiam sambil menatap ubin. Sesekali dia menutupi wajahnya. Setelah sekian lama, kepala si cewek mulai tegak. Wajahnya tampak segar. Kemudian dia menatap pasangannya. Sang cowok tak menghiraukannya.
Sekarang pria itu mendekati sang cowok. Setelah agak lama berbasa-basi, pria itu mulai serius. Raut wajah sang cowok tampak tegang. Pria itu merangkul pundaknya agar suasana sedikit santai. Beberapa pertanyaan mulai di layangkan pada sang cowok. Semua pertanyaan di jawab dengan lancar dan tanpa paksaan. Si cewek mendengar penjelasan pasangannya dengan serius. Dia tidak bisa berkata apa2. Karena dia menyadari bahwa apa yang di katakan pasangannya adalah benar adanya. Merasa info yang di dapat sudah lengkap dari kedua belah pihak, pria itu mulai menasehati pasangan tersebut. Menunjukkan masukan dan jalan keluar dari masalah mereka. Pasangan itu tampak lega. Mereka berpelukan. Pria itu tersenyum. Semua pengunjung yang hadir bertepuk tangan menyaksikan kejadian itu. Aku mencoba mengingat kembali siapa pria itu. Suara dan gaya bicaranya terdengar familiar. Kemudian pria itu meminta mikrofon dari seorang disana. Dia berbicara kepada pengunjung yang hadir. Termasuk diriku.
"Manusia hidup dengan masalah. Masalah membuat kita semakin dewasa dalam menghadapi kehidupan. Salah satu cara untuk meringankan masalah adalah sharing atau berbagi. Sharing dengan pasangan kita sendiri atau dengan orang yang kita yakini bisa membantu kita dalam menyelesaikan masalah. Jangan ada yang di tutup-tutupi. Jangan takut untuk berkata jujur. Selama niat kita baik, maka hasilnya juga akan baik juga. Sekian dari saya. Terima kasih sudah hadir disini. Anda sekarang berada di acara Uya emang.... Kuya!!!"
Monday, 8 November 2010
Sunday, 7 November 2010
cari pacar lagi?
Cinta gak bisa di paksakan. Just let it flow. Alangkah indahnya hidup dengan cinta..
***
"Gue pengen cinta. Gue pengen jatuh cinta"
Setidaknya itu yang pernah terpikir oleh otak gue. Gak tau napa. Gue pengen cinta. Atau lebih mendetailnya, gue pengen punya pacar. Terkesan agak maksa ya.. Maklum aja udah kebelet rasanya, udah hampir *tii..iiit* (disensor) bulan gue hidup tanpa cinta, tanpa perhatian, dan tanpa asupan gizi yang lengkap (eh, emang gue busung lapar!)
Gak ada pacar atau sekedar TTM. Gue pedekate, cewek padalare alias kabur. Berbagai cara udah gue lakuin. Mulai dari tebar pesona sana sini, majang pp yang keren di fb, pasang susuk, totok aura, dll, tapi gak ada yang manjur. Kondisi ini semakin memantapkan posisi gue sebagai seorang high quality jompo, eh jomblo.. Huh..
Pengen (lagi) ada yang tiap pagi sms gue ngucapin "good morning" ato "udah sarapan?" atau minimal ngomong "tuh, di rambut lu masih ada kapuknya. Mandi gak sih lu?"
Terkadang gue enjoy menikmati kejombloan ini. Tapi di lain waktu, hati gue merasa teriris iris. sedih..
Kebebasan begitu terasa di saat tidak terikat dengan apapun. Bisa kenalan dengan cewek mana aja tanpa ada yang marah atau cemburu. Mo jalan ama cewek itu, let's go. Mo nonton bareng ama cewek ini, yuuk marreee (dalam konteks ini, peran cewek hanya sekedar temen. Bukan pacar, majikan, apalagi istri orang. Hiii..)
Tapi di saat gue liat orang yang lagi jalan ama pasangannya; si cewek menggelayut manja di tangan pacarnya, atau si cewek naruh kepalanya di pundak sang cowok. Trus si cowok menjambak rambut si cewek, eh ngebelai kepala si cewek. Atau gue gak sengaja liat wall fb orang yang lagi kasmaran seperti : "miss u, beibh". Atau di statusnya "sEhaRian jaLAnd amA PacAr Quh terSAiiaNg. sENeng bUaNGett. ^_^". Aaarrgghh..
Setelah gue selidiki, banyak hal yang bisa bikin gue menderita daripada yang bikin gue enjoy menikmati kesendirian in. Perasaan sedihnya lebih dominan. Perasaan enjoy cukup sebagai figuran. Hiks..
Gue hanya manusia biasa yang ingin mencintai dan di cintai. Ingin mengasihi dan di kasihi. Ingin memberi dan di beri. Ingin memaki dan (gak pengen) di maki.. Hhi..
***
"Gue pengen cinta. Gue pengen jatuh cinta"
Setidaknya itu yang pernah terpikir oleh otak gue. Gak tau napa. Gue pengen cinta. Atau lebih mendetailnya, gue pengen punya pacar. Terkesan agak maksa ya.. Maklum aja udah kebelet rasanya, udah hampir *tii..iiit* (disensor) bulan gue hidup tanpa cinta, tanpa perhatian, dan tanpa asupan gizi yang lengkap (eh, emang gue busung lapar!)
Gak ada pacar atau sekedar TTM. Gue pedekate, cewek padalare alias kabur. Berbagai cara udah gue lakuin. Mulai dari tebar pesona sana sini, majang pp yang keren di fb, pasang susuk, totok aura, dll, tapi gak ada yang manjur. Kondisi ini semakin memantapkan posisi gue sebagai seorang high quality jompo, eh jomblo.. Huh..
Pengen (lagi) ada yang tiap pagi sms gue ngucapin "good morning" ato "udah sarapan?" atau minimal ngomong "tuh, di rambut lu masih ada kapuknya. Mandi gak sih lu?"
Terkadang gue enjoy menikmati kejombloan ini. Tapi di lain waktu, hati gue merasa teriris iris. sedih..
Kebebasan begitu terasa di saat tidak terikat dengan apapun. Bisa kenalan dengan cewek mana aja tanpa ada yang marah atau cemburu. Mo jalan ama cewek itu, let's go. Mo nonton bareng ama cewek ini, yuuk marreee (dalam konteks ini, peran cewek hanya sekedar temen. Bukan pacar, majikan, apalagi istri orang. Hiii..)
Tapi di saat gue liat orang yang lagi jalan ama pasangannya; si cewek menggelayut manja di tangan pacarnya, atau si cewek naruh kepalanya di pundak sang cowok. Trus si cowok menjambak rambut si cewek, eh ngebelai kepala si cewek. Atau gue gak sengaja liat wall fb orang yang lagi kasmaran seperti : "miss u, beibh". Atau di statusnya "sEhaRian jaLAnd amA PacAr Quh terSAiiaNg. sENeng bUaNGett. ^_^". Aaarrgghh..
Setelah gue selidiki, banyak hal yang bisa bikin gue menderita daripada yang bikin gue enjoy menikmati kesendirian in. Perasaan sedihnya lebih dominan. Perasaan enjoy cukup sebagai figuran. Hiks..
Gue hanya manusia biasa yang ingin mencintai dan di cintai. Ingin mengasihi dan di kasihi. Ingin memberi dan di beri. Ingin memaki dan (gak pengen) di maki.. Hhi..
Friday, 5 November 2010
the story about my kaki! 2
Alhamdulillah kaki gue udah mendingan. Posisi gaya jalan gue mulai normal lagi meski rasanya masih agak berat untuk melangkah. Soalnya lukanya masih belum kering total. Jika prediksi gue gak meleset, 4 hari lagi, gue akan berjalan seperti biasa dan gue udah bisa lagi pake sepatu gue yang wangi semerbak, hmmm.. *sambil narik napas lewat hidung* Hueek!!!
Klo sakit gue ini ibarat produksi barang, berarti sekarang udah dalam tahap packaging. Trus finishing deh. Alhamdulillah gue berhasil menjalaninya walau dengan susah payah. Cucuran keringat, butiran air mata dan sedikit tetesan iler jadi saksi perjuangan gue. Gue bersyukur hanya mengalami disfungsi telapak kaki sementara. Tapi rasanya lama banget. Sehari serasa seminggu. Seminggu serasa sebulan. Sebulan serasa 30hari. (lha, emang!)
Gak banyak yang bisa gue lakuin selama sakit. Di saat orang di sekeliling gue dengan lincahnya kesana kemari, berjalan, berlari, jungkir balik, goyang patah2, nari perut, dll, gue hanya bisa terbaring lemah (hiks!). Di kamar gue untung ada TV ukuran 14" yang setia menemani. Ada handphone sebagai tempat curhat. Trus juga ada peralatan obat dan di tambah seperangkat perlengkapan alat sholat. Tunai.
Pagi gue biasanya di awali dengan nonton kartun Nickolodeon. Abis tu nonton Dahsyat atau Inbox. Klo udah siangan dikit, biasanya mata gue mulai ngantuk. Sleeping is sound good. Sore mandi, trus tepar lagi sambil nonton Insert atau baca buku. Malam biasanya gue nonton OVJ dan bioskop transTV. Midnite adalah waktu yang sangat menyengsarakan bagi gue. Kumatnya mulai beraksi. Gue ambil posisi bersila sambil megangin kaki. Di tambah sedikit desahan menahan sakit. Persis kayak pertapa lagi ngisi ilmu kanuraga. Cuma bedanya gue gak pake mantra2. Penderitaan itu berlangsung sekitar 3jam. Setelah itu kumatnya mulai berkurang dan gak lama abis itu waktunya banci pulang eeh salah, waktunya gue tidur. Terkapar lagi sampai pagi. Gitulah siklus hidup gue sejak infeksi mendera kaki gue. Trus juga gak bisa kemana2. Just stay home. Klo lu nanya gue bosen apa kagak, itu kira2 sama aja kayak Evanna Lynch nanya ama elu "Am i pretty?" hehe..
Out of topic dikit ya.. Elu semua tau Evanna Lynch kan? Yup, pemeran Luna Lovegood di film Harry Potter, Half-Blood Prince. Sejak pertama kali liat, gue langsung terkesan ama tu cewek. Cantik gila. Gue aja waktu nonton adegan yang ada dia, sempat pause dulu (guenya). Hm.. Klo boleh saran ama sutradaranya nih, peran Hermoine di kasih ama doski aja. Masa cantik gitu cuma kebagian di beberapa seri aja. Kan mubazir. Trus gue juga mo saran (klo bisa sih) pemeran Harry Potter tu di ganti juga. Ehm.. Gue siap kok *sambil bikin poni, pake kacamata dan ngambil kayu kecil* Kapan audisinya mas? (ngarep.com). Jadi stunt pun tak apa lah. Yang penting gue bisa ketemu ama bintang pujaan nun jauh disana.. Hahay..
Ok, kembali ke topik utama..
At least, bagaimanapun penderitaan gue, itu belum seberapa di banding ama sodara kita yang lagi kena bencana. Ada yang kehilangan sodara, tempat tinggal, ternak, dll. Hiks.. Gue gak bisa bayanginnya seandainya gue yang ngalamin itu. Mudah2n mereka di beri kesabaran dalam menghadapi itu semua (amiin). Al-faatihah!
Klo sakit gue ini ibarat produksi barang, berarti sekarang udah dalam tahap packaging. Trus finishing deh. Alhamdulillah gue berhasil menjalaninya walau dengan susah payah. Cucuran keringat, butiran air mata dan sedikit tetesan iler jadi saksi perjuangan gue. Gue bersyukur hanya mengalami disfungsi telapak kaki sementara. Tapi rasanya lama banget. Sehari serasa seminggu. Seminggu serasa sebulan. Sebulan serasa 30hari. (lha, emang!)
Gak banyak yang bisa gue lakuin selama sakit. Di saat orang di sekeliling gue dengan lincahnya kesana kemari, berjalan, berlari, jungkir balik, goyang patah2, nari perut, dll, gue hanya bisa terbaring lemah (hiks!). Di kamar gue untung ada TV ukuran 14" yang setia menemani. Ada handphone sebagai tempat curhat. Trus juga ada peralatan obat dan di tambah seperangkat perlengkapan alat sholat. Tunai.
Pagi gue biasanya di awali dengan nonton kartun Nickolodeon. Abis tu nonton Dahsyat atau Inbox. Klo udah siangan dikit, biasanya mata gue mulai ngantuk. Sleeping is sound good. Sore mandi, trus tepar lagi sambil nonton Insert atau baca buku. Malam biasanya gue nonton OVJ dan bioskop transTV. Midnite adalah waktu yang sangat menyengsarakan bagi gue. Kumatnya mulai beraksi. Gue ambil posisi bersila sambil megangin kaki. Di tambah sedikit desahan menahan sakit. Persis kayak pertapa lagi ngisi ilmu kanuraga. Cuma bedanya gue gak pake mantra2. Penderitaan itu berlangsung sekitar 3jam. Setelah itu kumatnya mulai berkurang dan gak lama abis itu waktunya banci pulang eeh salah, waktunya gue tidur. Terkapar lagi sampai pagi. Gitulah siklus hidup gue sejak infeksi mendera kaki gue. Trus juga gak bisa kemana2. Just stay home. Klo lu nanya gue bosen apa kagak, itu kira2 sama aja kayak Evanna Lynch nanya ama elu "Am i pretty?" hehe..
Out of topic dikit ya.. Elu semua tau Evanna Lynch kan? Yup, pemeran Luna Lovegood di film Harry Potter, Half-Blood Prince. Sejak pertama kali liat, gue langsung terkesan ama tu cewek. Cantik gila. Gue aja waktu nonton adegan yang ada dia, sempat pause dulu (guenya). Hm.. Klo boleh saran ama sutradaranya nih, peran Hermoine di kasih ama doski aja. Masa cantik gitu cuma kebagian di beberapa seri aja. Kan mubazir. Trus gue juga mo saran (klo bisa sih) pemeran Harry Potter tu di ganti juga. Ehm.. Gue siap kok *sambil bikin poni, pake kacamata dan ngambil kayu kecil* Kapan audisinya mas? (ngarep.com). Jadi stunt pun tak apa lah. Yang penting gue bisa ketemu ama bintang pujaan nun jauh disana.. Hahay..
Ok, kembali ke topik utama..
At least, bagaimanapun penderitaan gue, itu belum seberapa di banding ama sodara kita yang lagi kena bencana. Ada yang kehilangan sodara, tempat tinggal, ternak, dll. Hiks.. Gue gak bisa bayanginnya seandainya gue yang ngalamin itu. Mudah2n mereka di beri kesabaran dalam menghadapi itu semua (amiin). Al-faatihah!
Wednesday, 3 November 2010
the story about my kaki
Takdir tak harus di tangisi. Kita hanya perlu menjalaninya dengan lapang hati. Ini ada sebuah kisah mini. The story about my kaki..
***
Ini semua berawal dari darah beku di telapak kaki. Hasil dari beladas main bola di lapangan yang hampir jadi. Ada batu dan duri yang siap melukai. Klo gak hati2, dalam beberapa hari ke depan elu bakal ngambil cuti seperti yang gue alami. Lukanya sih gak gede, cuma ukuran 5 senti. Berhubung gue orangnya punya nilai seni yang tinggi (yang gak setuju tolong ngasih interupsi!) jadi lukanya gue gunting biar keliatan rapi. Klo pake silet gue masih sangsi. Kali aja itu bekas bersih2 di daerah pribadi. Hiii..
Dari situlah dimulainya tragedi. Ternyata gunting yang gue pake tu membawa virus yang gak terdeteksi. Hasilnya luka itu berimprovisasi menjadi infeksi. Mana kaki gue belum di asuransi lagi. Mudah2n curhatan gue ini gak bakal menggiring gue ke bui. Kayak kisah bu Prita Mulyasari.
Gue gak bermaksud mengeluhkan nasib gue ini. Cuma ingin sedikit berbagi. Biar elu dan gue lebih hati2 lagi. "Mencegah lebih baik daripada mengobati" begitulah tulisan di tempat gue berobat tempo hari. Oia, bu mantrinya sangat baik hati. Gue gak di pungut bayaran alias fri. Pas banget, soalnya waktu itu kondisi keuangan gue lagi mengalami penurunan inflasi. Ngerti aja nih bu mantri!
Eniwey, kembali ke kaki. Infeksi ini sungguh menyiksa diri. Susah mo kesana kemari. Jalur etape perjalanan gue hanya ada dua, kamar tidur dan kamar mandi. Tiap malam terpaksa begadang tanpa menghiraukan pesan bang haji. Karna menahan sakit yang setengah mati. Dalam kesendirian, gue hanya bisa menatap lirih temen2 gue yang terlelap seperti sleeping beauty.
Klo gak salah itung, ini udah menujuh hari. Gak ada syukuran ataupun tumpeng nasi. Yang gue harapkan cuma doa dari my friends 'n my family. Biar gue cepat sembuh dan bisa eksis lagi (hhi!). Gue yakin, Allah pasti sedang merencanakan sesuatu yang baik di balik semua ini. Thanks, God!
***
Ini semua berawal dari darah beku di telapak kaki. Hasil dari beladas main bola di lapangan yang hampir jadi. Ada batu dan duri yang siap melukai. Klo gak hati2, dalam beberapa hari ke depan elu bakal ngambil cuti seperti yang gue alami. Lukanya sih gak gede, cuma ukuran 5 senti. Berhubung gue orangnya punya nilai seni yang tinggi (yang gak setuju tolong ngasih interupsi!) jadi lukanya gue gunting biar keliatan rapi. Klo pake silet gue masih sangsi. Kali aja itu bekas bersih2 di daerah pribadi. Hiii..
Dari situlah dimulainya tragedi. Ternyata gunting yang gue pake tu membawa virus yang gak terdeteksi. Hasilnya luka itu berimprovisasi menjadi infeksi. Mana kaki gue belum di asuransi lagi. Mudah2n curhatan gue ini gak bakal menggiring gue ke bui. Kayak kisah bu Prita Mulyasari.
Gue gak bermaksud mengeluhkan nasib gue ini. Cuma ingin sedikit berbagi. Biar elu dan gue lebih hati2 lagi. "Mencegah lebih baik daripada mengobati" begitulah tulisan di tempat gue berobat tempo hari. Oia, bu mantrinya sangat baik hati. Gue gak di pungut bayaran alias fri. Pas banget, soalnya waktu itu kondisi keuangan gue lagi mengalami penurunan inflasi. Ngerti aja nih bu mantri!
Eniwey, kembali ke kaki. Infeksi ini sungguh menyiksa diri. Susah mo kesana kemari. Jalur etape perjalanan gue hanya ada dua, kamar tidur dan kamar mandi. Tiap malam terpaksa begadang tanpa menghiraukan pesan bang haji. Karna menahan sakit yang setengah mati. Dalam kesendirian, gue hanya bisa menatap lirih temen2 gue yang terlelap seperti sleeping beauty.
Klo gak salah itung, ini udah menujuh hari. Gak ada syukuran ataupun tumpeng nasi. Yang gue harapkan cuma doa dari my friends 'n my family. Biar gue cepat sembuh dan bisa eksis lagi (hhi!). Gue yakin, Allah pasti sedang merencanakan sesuatu yang baik di balik semua ini. Thanks, God!
Monday, 1 November 2010
the boulevard
"Awal ku melihat..
Kuyakin ini bukanlah yang biasa..
Mengagumkan..
Melemahkan aku melihat tatap matanya.." (Peterpan - Khayalan tingkat tinggi)
***
Malam itu, aku berada di antara ratusan orang. Mengikuti sebuah acara outdoor. Tua, muda, pria, wanita, anak2, semuanya berbaur. Selang beberapa saat kemudian acara di mulai. Aku mengikuti acara tersebut dengan setengah hati. Sungguh tak ada yang istimewa malam itu. Dingin malam merayuku untuk segera pulang ke rumah. Suasana di sini membuatku bosan..
Iseng2 aku menoleh ke arah cewek2. Naluri lelakiku beraksi. Barangkali ada sesuatu atau seseorang yang bisa menghilangkan kebosananku disini. Aku segera mencari posisi. Tiba2 mataku tertuju pada makhluk yang sangat indah berdiri di antara sekumpulan orang ini. Dia berada sekitar 2meter di sampingku. Dia memakai pakaian berwarna abu-abu. Sedangkan jilbab dan sweaternya berwarna pink. Orangnya tidak terlalu tinggi. Wajahnya cantik dan putih. Hidungnya mancung, terlihat jelas dari samping. Tiupan angin asyik memainkan ujung jilbabnya. Dia kelihatan sedang khusyu bercengkrama dengan sebuah handphone. Memencet tombolnya dengan jarinya yang lentik. Sesekali dia tersenyum. Aku terpana. What a beautiful girl..
"You're beautiful it's true..
And i saw your face..
In a crowded place..
And i don't know what do..
Cause i'll never be with you.." (James Blunt - You're beautiful)
Aku tidak memperdulikan orang di sekelilingku. Aku merasa di sini hanya ada aku dan dia. Aku yang terdiam sambil menatap kagum. Dia yang asyik dengan dunianya sendiri. Aku benar2 terpaku menyaksikan makhluk yang sangat indah ini. Is she an angel? Apakah aku bermimpi? Tidak, suara keramaian ini nyata. Dan wanita itu ada. Sungguh indah.. Selang beberapa saat, mungkin dia mulai menyadari bahwa ada seseorang yang memperhatikannya. Dia menatapku. Oh my God, Matanya.. Mataku.. Beradu pandang. Untuk beberapa saat, aku terhipnotis oleh mata cantiknya. Aku tidak bisa mengendalikan diriku. Aku sungguh terlena dengan semua ini.
Malam mulai larut. Acara sudah hampir selesai. Perlahan wanita itu pergi. Meninggalkanku disini dengan bayang-bayang keindahan yang di milikinya. It was -un-forgettable moment. Thanks, girl!
Dalam perjalanan pulang, aku mengeluarkan hp dari kantongku dan memutar lagu Boulevard-nya Dan Byrd. Kedengarannya cocok banget di jadikan backsound perpisahan dengan wanita itu.
"Never knew that it would go so far..
When you left me on that boulevard.." (Dan Byrd - Boulevard)
***
Gue gak percaya ama "love at the first sight". Bagi gue itu bukan cinta, tapi hanya sekedar kekaguman. Gak lebih. Jangan pernah menganggap kekaguman itu cinta. Karena tipuan mata itu sungguh dahsyat.
Kuyakin ini bukanlah yang biasa..
Mengagumkan..
Melemahkan aku melihat tatap matanya.." (Peterpan - Khayalan tingkat tinggi)
***
Malam itu, aku berada di antara ratusan orang. Mengikuti sebuah acara outdoor. Tua, muda, pria, wanita, anak2, semuanya berbaur. Selang beberapa saat kemudian acara di mulai. Aku mengikuti acara tersebut dengan setengah hati. Sungguh tak ada yang istimewa malam itu. Dingin malam merayuku untuk segera pulang ke rumah. Suasana di sini membuatku bosan..
Iseng2 aku menoleh ke arah cewek2. Naluri lelakiku beraksi. Barangkali ada sesuatu atau seseorang yang bisa menghilangkan kebosananku disini. Aku segera mencari posisi. Tiba2 mataku tertuju pada makhluk yang sangat indah berdiri di antara sekumpulan orang ini. Dia berada sekitar 2meter di sampingku. Dia memakai pakaian berwarna abu-abu. Sedangkan jilbab dan sweaternya berwarna pink. Orangnya tidak terlalu tinggi. Wajahnya cantik dan putih. Hidungnya mancung, terlihat jelas dari samping. Tiupan angin asyik memainkan ujung jilbabnya. Dia kelihatan sedang khusyu bercengkrama dengan sebuah handphone. Memencet tombolnya dengan jarinya yang lentik. Sesekali dia tersenyum. Aku terpana. What a beautiful girl..
"You're beautiful it's true..
And i saw your face..
In a crowded place..
And i don't know what do..
Cause i'll never be with you.." (James Blunt - You're beautiful)
Aku tidak memperdulikan orang di sekelilingku. Aku merasa di sini hanya ada aku dan dia. Aku yang terdiam sambil menatap kagum. Dia yang asyik dengan dunianya sendiri. Aku benar2 terpaku menyaksikan makhluk yang sangat indah ini. Is she an angel? Apakah aku bermimpi? Tidak, suara keramaian ini nyata. Dan wanita itu ada. Sungguh indah.. Selang beberapa saat, mungkin dia mulai menyadari bahwa ada seseorang yang memperhatikannya. Dia menatapku. Oh my God, Matanya.. Mataku.. Beradu pandang. Untuk beberapa saat, aku terhipnotis oleh mata cantiknya. Aku tidak bisa mengendalikan diriku. Aku sungguh terlena dengan semua ini.
Malam mulai larut. Acara sudah hampir selesai. Perlahan wanita itu pergi. Meninggalkanku disini dengan bayang-bayang keindahan yang di milikinya. It was -un-forgettable moment. Thanks, girl!
Dalam perjalanan pulang, aku mengeluarkan hp dari kantongku dan memutar lagu Boulevard-nya Dan Byrd. Kedengarannya cocok banget di jadikan backsound perpisahan dengan wanita itu.
"Never knew that it would go so far..
When you left me on that boulevard.." (Dan Byrd - Boulevard)
***
Gue gak percaya ama "love at the first sight". Bagi gue itu bukan cinta, tapi hanya sekedar kekaguman. Gak lebih. Jangan pernah menganggap kekaguman itu cinta. Karena tipuan mata itu sungguh dahsyat.
Wednesday, 27 October 2010
catatan kecil di binder (part 9)
Akhirnya datang juga. Udah sekian lama gue nunggu kata penutup dari dosen. Lega rasanya. Kelas gue mulai tenang, setenang ombak di lautan. Padahal sebelumnya kayak ada tsunami. Trus gitu ada hujan, petir dan badai juga. Diskusi kali ini ngalah2n sidang pengitungan suara. Ribut. Suara2 bersahutan. Dosen kewalahan. Moderator kelimpungan. Ruangan sebelah jadi kalah saingan. Bayangin aja, yang ini belum selesai ngomong, yang itu mo ngasih intrupsi. Trus gitu, ngomongnya kenceng pula. Kayaknya udah terlatih. Maklum aja, temen2 gue adalah pejuang di garis depan di setiap demo atau aksi.
Jadi, sepertinya masalah poligami tidak hanya menjadi perdebatan serius di antara para ulama dan pemerintah, tapi juga di kelas gue. Perdebatan ini banyak memunculkan pemikiran baru (sesuai dengan standarisasi otak temen2 gue). Gak usah takut. Pemikiran ini gak akan sampai mengistinbatkan suatu hukum baru. Soalnya pemikiran temen gue gak beda jauh lah levelnya ama pemikiran the Curious George. Peace! Hhi.. *kabuuurr..*
Cowok1 : populasi cewek lebih banyak di banding cowok. I'll be guardian angel for them..
Cewek1 : hiks, i hate this! *sambil lari keluar ruangan*
Cowok2 : kasian ama ceweknya. gak tega ah..
Cewek2 : say no to poligami!
Cowok3 : bilang saja OK..
Cowok4 : senangnya dalam hati klo beristri 2. klo gak pecah temberang sih..
Cewek3 : aku tak mau klo aku di madu..
Cewek4 : ih ogah banget!
Cewek5 : gubrakk!! *jatuh dari kursi* (bantuin bini lu, fiz!)
Hm.. Gimana pun caranya, intinya gak boleh ada yang di rugiin. Harus bisa jaga perasaan pasangan masing2. Iya kan? Iya dong? What about u?
Jadi, sepertinya masalah poligami tidak hanya menjadi perdebatan serius di antara para ulama dan pemerintah, tapi juga di kelas gue. Perdebatan ini banyak memunculkan pemikiran baru (sesuai dengan standarisasi otak temen2 gue). Gak usah takut. Pemikiran ini gak akan sampai mengistinbatkan suatu hukum baru. Soalnya pemikiran temen gue gak beda jauh lah levelnya ama pemikiran the Curious George. Peace! Hhi.. *kabuuurr..*
Cowok1 : populasi cewek lebih banyak di banding cowok. I'll be guardian angel for them..
Cewek1 : hiks, i hate this! *sambil lari keluar ruangan*
Cowok2 : kasian ama ceweknya. gak tega ah..
Cewek2 : say no to poligami!
Cowok3 : bilang saja OK..
Cowok4 : senangnya dalam hati klo beristri 2. klo gak pecah temberang sih..
Cewek3 : aku tak mau klo aku di madu..
Cewek4 : ih ogah banget!
Cewek5 : gubrakk!! *jatuh dari kursi* (bantuin bini lu, fiz!)
Hm.. Gimana pun caranya, intinya gak boleh ada yang di rugiin. Harus bisa jaga perasaan pasangan masing2. Iya kan? Iya dong? What about u?
Monday, 25 October 2010
Cerpen : Gempa di kotaku (chapter 1)
Sore ini kelihatan mendung. Ah, sepertinya akan hujan malam ini, pikirku. Aku baru saja selesai memasak. Adikku yang masih berusia 3 tahun sedang di mandikan oleh amak..
Tiba-tiba terdengar suara bergemuruh. Begitu besar sehingga membuat jantungku berdetak hebat. Badanku serasa melayang. Piring dan gelas yang di rak berjatuhan. "Ya Allah, gempa.." Aku terhenyak. Tubuhku gemetar. Aku segera berlari ke ruang tengah. Aku memanggil amak yang baru selesai memandikan adikku. Amak juga merasakan hal yang sama. "Ida, tolong ambilkan baju adiak". Aku buru-buru ke kamar. Getarannya masih terasa. Amak berlari ke luar rumah sambil menggendong adikku yang masih memakai handuk. Pemandangan di luar sangat mengharukan. Anak-anak menangis. Para wanita ketakutan. Langit gelap. Rumah-rumah bergetar. Tiang listrik bergoyang hebat. Aku mencoba mengendalikan perasaanku. Aku tak sanggup membendung air mata. "Masya allah.. Ampuni hamba ya Allah. Lindungi hamba dan keluarga hamba.." Aku melihat raut ketakutan di wajah amak. "cepat hubungi uda Faisal" amak menyuruhku. Bibirnya gemetar..
Para penduduk berlarian. Sebagian mereka berteriak "tsunami..!! tsunami..!!". Suasana semakin mencekam. Aku berdiri di samping amak. Kemudian kami mulai berlari bersama warga lainnya. Tak tau arah tujuan..
..
Rumahku terletak di daerah pasar. Aku tinggal bersama amak, adik, dan kakakku. Bapakku meninggal 3 bulan yang lalu. Rumah kami hanya berjarak sekitar 5km dari pantai Padang. Sebelumnya gempa sudah pernah terjadi disini. Walaupun begitu, tidak ada istilah "sudah terbiasa" bagi orang yang sering merasakannya. Semua takut. Semua cemas..
..
Kami terus berlari. Kota Padang menjadi lauatan massa. Suara kendaraan, suara teriakan anak-anak, suara langkah kaki, semuanya menyatu menimbulkan kecemasan yang tiada tara.
Tanganku memegang erat tangan amak. Adikku, Adon, hanya bisa menangis di pangkuan amak. Aku mengusap kepalanya. Tak terasa air mataku mengalir. Sabar dik..
Perlahan gempa berhenti. Kami dan ribuan warga lainnya berkumpul di lapangan. Aku mencoba menghubungi uda faisal. Dia bekerja di supermarket Plaza Andalas sejak 2 tahun lalu. Seharusnya sore ini uda Faisal sudah ada di rumah.
Sambungan gagal. Berkali-kali ku coba tapi masih gagal. Pulsaku masih ada, pikirku. Kemarin baru di isi 10ribu oleh uda-ku. Aku mulai cemas. Amak tidak memperhatikan. Beliau sedang menenangkan adikku. Aku tidak berani memberitahu. Perlahan sinyal di HP-ku berkurang dan hilang sama sekali. Ya Allah.. Ada apa ini? Bagaimana kakakku?
*Palembang, 26_oct_10*
Tiba-tiba terdengar suara bergemuruh. Begitu besar sehingga membuat jantungku berdetak hebat. Badanku serasa melayang. Piring dan gelas yang di rak berjatuhan. "Ya Allah, gempa.." Aku terhenyak. Tubuhku gemetar. Aku segera berlari ke ruang tengah. Aku memanggil amak yang baru selesai memandikan adikku. Amak juga merasakan hal yang sama. "Ida, tolong ambilkan baju adiak". Aku buru-buru ke kamar. Getarannya masih terasa. Amak berlari ke luar rumah sambil menggendong adikku yang masih memakai handuk. Pemandangan di luar sangat mengharukan. Anak-anak menangis. Para wanita ketakutan. Langit gelap. Rumah-rumah bergetar. Tiang listrik bergoyang hebat. Aku mencoba mengendalikan perasaanku. Aku tak sanggup membendung air mata. "Masya allah.. Ampuni hamba ya Allah. Lindungi hamba dan keluarga hamba.." Aku melihat raut ketakutan di wajah amak. "cepat hubungi uda Faisal" amak menyuruhku. Bibirnya gemetar..
Para penduduk berlarian. Sebagian mereka berteriak "tsunami..!! tsunami..!!". Suasana semakin mencekam. Aku berdiri di samping amak. Kemudian kami mulai berlari bersama warga lainnya. Tak tau arah tujuan..
..
Rumahku terletak di daerah pasar. Aku tinggal bersama amak, adik, dan kakakku. Bapakku meninggal 3 bulan yang lalu. Rumah kami hanya berjarak sekitar 5km dari pantai Padang. Sebelumnya gempa sudah pernah terjadi disini. Walaupun begitu, tidak ada istilah "sudah terbiasa" bagi orang yang sering merasakannya. Semua takut. Semua cemas..
..
Kami terus berlari. Kota Padang menjadi lauatan massa. Suara kendaraan, suara teriakan anak-anak, suara langkah kaki, semuanya menyatu menimbulkan kecemasan yang tiada tara.
Tanganku memegang erat tangan amak. Adikku, Adon, hanya bisa menangis di pangkuan amak. Aku mengusap kepalanya. Tak terasa air mataku mengalir. Sabar dik..
Perlahan gempa berhenti. Kami dan ribuan warga lainnya berkumpul di lapangan. Aku mencoba menghubungi uda faisal. Dia bekerja di supermarket Plaza Andalas sejak 2 tahun lalu. Seharusnya sore ini uda Faisal sudah ada di rumah.
Sambungan gagal. Berkali-kali ku coba tapi masih gagal. Pulsaku masih ada, pikirku. Kemarin baru di isi 10ribu oleh uda-ku. Aku mulai cemas. Amak tidak memperhatikan. Beliau sedang menenangkan adikku. Aku tidak berani memberitahu. Perlahan sinyal di HP-ku berkurang dan hilang sama sekali. Ya Allah.. Ada apa ini? Bagaimana kakakku?
*Palembang, 26_oct_10*
Subscribe to:
Posts (Atom)