Monday, 17 October 2011

Waspadalah!

Beberapa hari terakhir ini, kondisi di tempat gw mulai gak aman. Ada segelintir orang2 mencurigakan yang ngintai2, curi2 pandang ke tempat gw tinggal.
Pernah waktu itu mereka bawa parang. Awalnya gw pikir mereka mo nyari amal bersihin semak2 belakang asrama tempat gw tinggal, eee.. ternyata malah bikin jalan setapak.
Buat apa coba? Maen petak umpet?

Trus ada anak2 disini yang jadi saksi mata, liat orang2 itu nyoba buat manjat pagar. Hmm.. Something wrong i think..
Sedangkan anak2 yang jadi saksi bisu cuma ngangguk2 kayak orang gagu. Hehehe..

Kejahatan terjadi bukan hanya karna niat pelakunya, tapi karna juga ada kesempatan. Begitu pesan bang napi yang gw ingat.
Nah, untuk meminimalisir kesempatan buat orang2 itu, kita2 disini ngadain patroli.
Tadi malam kegiatan patroli di launching atau gw lebih enak nyebutnya Jaga malam berjamaah, secara para pesertanya lumayan banyak. Mungkin karna masih baru ya, jadi peminatnya bejibun.

So, beberapa kelompok orang di taruh di titik2 penting. Ngawasin tiap sudut asrama. Eh, maksud gw sih semua-muanya, bukan sudutnya doang. Hihihi..
Kelompok tersebut melengkapi diri mereka sendiri dengan senjata alakadarnya (berhubung karna panitia gak nyediain). Yang penting kan semangatnya. Meski gaya kayak finalis Be a Man, tapi jiwa harus seperti prajurit Spartan. Weww.. :p

Kira2 jam 11an, biar matanya melek tahan lama, di buatlah kopi. Sluurrrpp! Hanya dalam sepersekian menit, kopi yang terdiri dari 20 sachet itu pun tandas. Prok! Prok!
Gw pikir setelah kopinya abis, mereka bakal makin semangat. Tapi ternyata.. Mereka mulai tumbang satu persatu. Keadaan yang tadinya seru, mendadak lesu. Selesu Ayu ting-ting yang kecewa mendapat alamat palsu. *halaah!*

Gw maklum, menunggu emang pekerjaan yang membosankan. Kali aja ntu maling mereka lagi bad mood atau mungkin ada jadwal show di tempat lain, jadi mereka gak datang. Tapi meskipun begitu, kami akan tetap setia menunggu. Hingga di ambang waktu. Ahiakk! :p

Semalam gw cuma ampe jam 3an. Lagu bang Rhoma, begadang, jadi alasan yang jitu. Karna emang kita kayak gak ada gunanya. Sekian lama menunggu, maling itu gak datang juga. Sungguh terlalu!

Dan malam ini gw ngantuk banget.
Pengen bobo' yang nyenyak. Pake selimut tebal. Trus meluk boneka teddy bear. Oh ya, tak lupa minum susu dulu. Lanjut di dongengin ama mama. Ckckck..
:)

oQEhh..
aQ buBbhu dLuaN yaCh, teMand2! ^_____^

Bye!!

Friday, 7 October 2011

bikin logo


coba ikut2 bikin logo buat mtq ntar. doain terpilih ya.. *komat-kamit baca doa*

antara pesimis dan optimis sih sebenarnya. ini pertama kalinya gw ikutan..
lawan gw yang lain mungkin para the master semua.. hhhh...

(but anyway, semangka! semangat kaka'.. ting!)

(^_^)

Thursday, 6 October 2011

kira2 kayak ginilah si mata indah itu..



si mata indah itu sebenarnya gak ada. dia murni imajinasi gw..
tapi lama kelamaan akhirnya inspirasi gak gw temuin klo mo nulis. mesti ada seseorang nih, pikir gw..
setelah berkonsultasi dengan penasehat spiritual dan nyari wangsit akhirnya gw mutusin buat nyari seseorang yang pantas di jadiin SI MATA INDAH..

gak butuh waktu lama, meskipun banyak buaaaanget yang ngikut seleksi,
dan akhirnya keluarlah satu nama..
siapakah dia yang beruntung itu...
treeeng...
treeeng..

yup, selamat kepada ARIEL TATUM..
prok! prok! prok!
(penilaian gw murni loh. gak ada sogok2kan)

maaf aja ya, keputusan gw gak bisa di ganggu gugat dan gak bisa di ubah lagi terhitung sejak tulisan ini di turunkan..
buat yang belum terpilih, coba lagi ya.. :p

....

Saturday, 1 October 2011

Diari si Mata indah (bag-7)

Izinkan aku menanam bibit rindu hingga dia tumbuh besar dan rindang. Lalu suatu saat kita bertemu disana. Dan kau akan menyadari betapa aku mendambamu disini.
Sendiri.

Sebenarnya aku letih mengingatmu.
Pikiranku berlarian kesana kemari. Tanpa henti.
Akal sehatku terpinggirkan. Ya, aku seperti gila.
Because of you.

Dan akhirnya hanya ada satu rasa, aku kangen kamu..

I'm si mata indah (bag-6)

Yeay, tadi si tukang intip ke rumah. Nganterin makanan buat nenek gw.
Abis itu kita ngobrol. Dia orangnya baek, ri.. Lucu..
Asyik banget pokoknya.
Waktu terasa bergulir begitu cepat saat diriku bersamanya *halaah!*

Tapi kok gw merasa agak gimana ya? Apa gw mulai suka ama dia? Oh nooo, we're just friend. No more! >.<
Gw sukanya cuma ama si kodok. Tapi dia entah kemana sekarang. Dia nyuekin gw :(

Ri, besok pagi2 banget gw balik ke palembang. Si tukang intip keliatan kaget waktu gw kasih tau.
Gw agak sedih juga sih sebenarnya. Lagi asyik2nya kenalan sekarang ini. Tapi ya mo gimana lagi..

Hmm.. Dia kangen gw gak ya? Hohoho.. :p

Gw mesti prepare nih..
Takutnya ntar ada yang ketinggalan.
O ya, tadi doski ngasih gw gantungan kunci gitu. Kayak miniatur jam gadang.
Thanks! ^^

Gud nite, ri.. :)

(palembang/mr.Fu/011011)

Diari si Mata indah (bag-6)

Terkadang orang menghindari sebuah pertemuan, karna mereka takut akan pilunya perpisahan.

Tapi bertatap muka denganmu, adalah hal yang aku impikan. Aku senang. :
)

Bukan berarti kita tak kan berpisah suatu saat nanti, tapi aku merasa kita akan selamanya.
Ya, aku dan kamu.. :)

Lagi2 mata indahmu.
Mematikan gerakku. Grogi yang akhirnya kurasa.
Membuatku kaku.

Melayangkan pikiranku jauh. Menggetarkan ragaku yang diam.
Kamu cantik.
Itu yang terucap di kebisuanku.

Kamu tau, ada sekelebat rindu yang tersisa. Tak mungkin bisa ku tepis.
Pada siapa harus ku sampaikan?
Ah, aku benar2 terkukung di keindahanmu.

Dan malam ini, aku semakin terbuai karna mengingatmu.
Kamu sepertinya telah membiaskan keelokan rembulan. Cahayanya meredup.
Dan kamu bersinar. Terang. Di relung hatiku yang dalam.

Mungkinkah kita bertemu lagi?
Aku hanya tak ingin rembulan iri padamu.

(palembang/mr.Fu/290911)

Misteri ajal

Sabtu pagi, doni bersiap2 pergi ke rumah sakit. Agak buru2.
Ada kabar buruk. Teman kuliahnya, Heru, sudah lebih dari 3 hari di rawat di sana. Apa yang terjadi?

Doni memacu sepeda motornya cukup kencang sambil terus berdoa untuk temannya. Ada perasaan tak tenang dalam dirinya.

~~~~

Doni memasuki kamar rumah sakit dengan perlahan. Pintu di buka. Aroma obat2an menelusup hidungnya.

Pemandangan di dalamnya membuat doni terkesiap.
Di sana terbujur sesosok manusia. Kaku. Wajah dan tubuhnya di tutupi kain batik panjang. Tanpa selang infus. Tak tampak obat2n di meja. Tak ada dokter atau perawat.

Doni mendekat.
Badannya gemetar.
Ada beberapa orang disana. Sekitar 7 orang. Suasana sepi. Lengang. Hanya angin di luar yang ribut menyentuh dedaunan.

Di samping sosok terbaring tersebut ada 3 orang yang duduk melantunkan surat yasin. Suara mereka sangat berat dan pelan. Sangat memilukan.

Seorang bapak paruh baya di sana berdiri lalu menyalami doni. Matanya sembab. Kemerah2an. Wajahnya menyiratkan kesabaran yang dalam.

"Kamu temannya?" Suaranya agak parau.

Doni hanya mengangguk. Matanya tak berhenti menatap raga kaku di ranjang tersebut. Mulai berkaca2. Sudut matanya perlahan mengalirkan bulir air.

"Mengapa kau pergi begitu cepat, kawan?", rintihnya.

Dia jadi menyadari satu hal. Ajal itu suatu hal yang misteri. Dia bisa datang kapan saja. Meski dia belum siap kehilangan.

Tiba2 hape doni berbunyi. Ada sms masuk.
Seketika raut mukanya berubah. Dia menyunggingkan senyumnya. Tapi hatinya geram.

Ternyata dia sedang di kerjai temannya.
Pantas saja dia tak mengenali seorang pun disana.

Ah, kau masih hidup, kawan. Hatinya girang. Meskipun kesal. Doni tak sabar bertemu heru serta berkumpul dengan temannya yang lain.

Akhir2 ini doni agak sibuk dengan pekerjaannya di luar kota. Dia tak sempat membesuk temannya itu. Kebetulan sabtu libur, jadi dia berencana ke rumah sakit.
Dia tidak tau bahwa jumat sebelumnya Heru sudah pulang. Heru sengaja untuk mengerjainya.

~~~~

Malamnya, malam minggu, heru mendatangi rumah doni. Dia bersama teman yang lain. Seperti biasa. Mereka berkumpul sambil menonton bola atau bercerita.

Tapi ada yang beda malam itu. Mereka hanya banyak diam. Sambil membantu membereskan rumah doni.
Sofa dan meja di taruh di luar. Beberapa orang tampak mendirikan tenda. Bendera kuning di pasang. Seseorang di rumah sana meninggal.

Tak ada yang menyangka. Malaikat maut bisa datang kapan saja.

Doni kecelakaan siang itu. Sehabis dari rumah sakit. Nyawanya tak tertolong.

Ya, dia tak sedang mengerjai temannya. Dia benar2 serius. Tubuhnya tak bergerak. Diam. Tenang.


Ah, ajal itu benar2 suatu misteri.

(palembang/mr.Fu/260911)