Monday, 19 August 2013

Blog lagi

Tampilan blog gw di ganti lagi. Buat penyegaran aja. Yang ganti kemaren itu tampilannya bagus tapi klo di hape itu tampilannya jadi gelep. Tulisannya gak kebaca. Ini gw coba yang baru. Kali aja gak nganeh lagi.

Btw, gimana kabar blog gw yang satunya lagi ya?

Mampir dulu ah..

......

Well, lumayan lega. Curhat abis2an di blog yang satunya. Private. Jadi gw bisa nulis apa aja.

Mau baca buku, tapi godaan leptop ini cukup menarik hati. Buku gw masih tersusun rapi. Mau nulis dikit lagi aja. Penting gak penting. Namanya juga kangen ngeblog.

*now listening careless whisper*

Gw jadi agak mellow bawaannya. Mau nulis tentang kegalauan? Mmm..

Cinta itu.. *deuh, mulaiiii..*

Gak jadi ah.

*next listening contradanza - vanessa mae*

Jadi cemungudh nih. 

Okee.. Jadi sodara2 sekalian..

Liga inggris itu sekarang tayangannya gak asik kayak musim kemaren. Kebanyakan partai di beli ama TV berbayar. Mudah2n gak termasuk yang bigmatch. Bakalan jarang liat tottenham main. Errrr..

Pengen ngedit foto tapi lagi gak ada ide. Klo gw liat2 kayaknya udah gak jaman lagi ngedit foto dengan tema nuker wajah. Sekarang lebih banyak tema comic.

...

Bye..

Sunday, 18 August 2013

My Blog

Assalamualaikum. Wr. Wb

Selamat lebaran, mohon maaf lahir bathin. Minal aidin wal faizin..

Udah lama gak ngeblog. Terakhir itu bulan Mei. Ini udah bulan Agustus. Hmm..
Bingung mau nulis apa. Gw juga udah jarang baca akhir2 ini. Bikin males mikir. Ada sih beberapa buku yang numpuk di kasur gw, nunggu buat di baca. Tapi entah kenapa buku itu gw cuekin. Gak tergoda sedikitpun. Yah mudah2n dengan nulis postingan ini otak gw agaknya bisa mulai bekerja dan bikin nafsu baca gw jadi on lagi.

Lebaran kemaren gw di rumah. Mudik bareng sepupu. Alhamdulillah banget ya. Karna awalnya kan gw ama adek gw udah mesen tiket bus. Trus itu di cancel. Klo gw pernah bilang perjalanan Palembang – Padang itu memakan waktu kurang lebih 18 jam, nah itu kayaknya mau gw koreksi. Soalnya waktu gw pulang ama sepupu naik mobilnya beliau, mobil pribadi, itu Cuma 16 jam. Agak cepet. Eitt, tapi tunggu dulu. Masih ada lagi. Sewaktu gw balik ke Palembangnya lagi, gw ikut ama sodara (alhamdulilah lagi). Yang nyupirnya lumayan ngebut. Eh bukan lumayan sih. Ngebut banget malah -_-

Itu kita udah brenti sekitar sejam pas istirahat sholat Jumat ama makan. Dan kurang lebih nyampe Palembangnya sekitar 15 jam. Waw..

Jadi, klo menurut gw perjalanan ke Padang itu sekitar 16-18 jam lah. Tergantung kecepatan juga. Waktu itu gw nyamainnya ama Bus yang 18 jam itu. Klo mobil pribadi kan beda. Bisa nyalip, ngebut dan mau brenti atau nggak itu bisa di atur.

Well, ini gw bikin postingan ama laptop uni gw yang udah di hibahkan ke gw. Ini tulisan pertama gw di laptop ini. Semoga selanjutnya bisa bikin postingan2 yang selanjutnya atau bisa bikin buku/novel kayak cita2 gw. Amiin..

Oke, gw mau browsing2 dulu ama download gambar/foto. Gambar disini masih dikit. Dan kebanyakan fotonya masih di isi oleh penghuni lama. Ntarlah gw isi ama foto2 gw.


Semoga abis lebaran ini kita bisa menjadi hamba yang lebih baik. Amiin..
Salam lebaran.
Wassalamualaikum. Wr. Wb

Tuesday, 28 May 2013

Keep calm and read al-qur'an


Malam itu, kawan..


Dont judge people by their past. They'r dont live there anymore

Mengingat masa lalu. Layaknya meniti langkah2 lama yang terkadang terjal dan juga mulus lancar.

Ini kisah gw sewaktu masih di asrama dulu.

Namanya juga hidup, pasti ada sedih dan gembiranya. Ada baik dan buruknya. Nah disini gw mau ceritain yang agak kurang baiknya. Eh maksud gw, soalnya kalau cerita yang baik2 itu terlalu mainstream kayaknya ya. Lagian itu mungkin bagian buat teman gw yang lain ajalah yang nyeritainnya. Trus juga ini nyeritain yang kurang baik itu asik. Sangat berkesan soalnya, saudara-saudara.. hehehe :D

Ok. Mari kita mulai..

Cerita ini bermula dari sebuah rumah terpencil yang terletak di puncak perbukitan. Satu-satunya bangunan kokoh yang ada di atas sana. Saya dulu pernah tinggal disana sekitar 6 tahun.

Rumahnya tidak terlalu besar, tapi cukup luas. Beratapkan asbes berwarna hijau dengan dinding bercat putih. Di dalamnya terdapat empat kamar tidur, dan 3 kamar mandi. Juga terdapat ruang tamu, ruang tengah dan dapur. Sejatinya itu adalah rumah yang di peruntukkan bagi karyawan di sebuah perkebunan PT. Tepat di samping kiri, sebelah dapur, sebuah pohon Akasia yang tidak terlalu besar memberi kesan rindang di siang hari.

Penghuninya di dominasi oleh anak-anak. Selain itu ada remaja tanggung dan juga beberapa yang mulai beranjak dewasa. Di antara mereka mungkin hanya satu dua yang memiliki pertalian darah. Pertemuan mereka satu sama lain berawal disana. Namun perlu di ketahui di akhirnya, kedekatan di antara mereka layaknya sudah seperti sebuah keluarga besar.

Kalau tempat itu dinamai rumah singgah, bukan sama sekali. Asrama lebih tepatnya. Mereka di pimpin oleh seorang paruh baya yang sangat sabar. Kita panggil saja bapak. Bukan eyang ya. Hehehe..

Di atas sana, puncak perbukitan, kita akan di manjakan oleh sapuan angin lereng yang tiada henti. Sangat sejuk. Di sekelilingnya, panorama hijau yang cukup memanjakan mata. Khas daerah perkebunan. Lerengnya di hiasi rumput-rumput liar yang tidak terlalu tinggi. Tanaman sawit yang masih kecil menyeruak di tengah rerumputan liar, letaknya jarang-jarang dan sebagian sudah hancur menyembul dari tanah. Diserang oleh hama babi hutan.

Lanjut pemandangan bagian belakang bangunan tersebut, dimulai dari kaki bukit, hamparan hijau khas hutan belantara terpampang sejauh mata memandang. Pohon-pohon tinggi menjulang berjejer indah. Sesekali terdengar suara-suara hewan yang mungkin sedang meributkan sesuatu. Atau terkadang ada yang mendekat, menampakkan dirinya dengan sok akrab di sela-sela dahan pohon. Oh iya, di dalam sana juga terdapat sungai kecil yang tenang.

....
Maaf kalau ada salah kata. Namanya juga kisah lama. Hehehe..

Disini sepertinya tidak ada hikmah atau pelajaran yang bisa di ambil. Ya hanya sekedar mengingat2 saja, kawan :)

Baiklah, mari kita melayangkan pikiran kita ke beberapa tahun yang lalu."
....

Malam itu, kawan..

Bulan menampakkan diri seperti biasa. Angin yang tak terlalu heboh. Pelan saja. Malam yang cukup tenang.
Hanya sesekali terdengar bunyi jangkrik atau binatang malam yang lain.

Kondisi rumah pun tampak biasa saja. Semuanya sibuk dengan diri masing-masing. Membaca apa yang ingin mereka baca. Atau pun melakukan hal lain. Tak ada suara riuh atau gerak yang gaduh.

Tak beberapa lama kemudian, sang bapak tampak bersiap meninggalkan asrama. Ada perlu sebentar, katanya. Di temani oleh seorang remaja, mereka berdua menerpa jalan perbukitan, menembus gelapnya malam. Menuju sebuah rumah kerabat di Koto, nama desanya.

Tak ada bapak di rumah. Nah, ini bagian serunya :p

Tak perlu menunggu lama, tak perlu menunggu komando, asrama mulai di landa keriuhan suara. Di kamar, di ruang tengah, bahkan dapur terdengar celotehan yang entah apa. Semakin lama semakin ramai. Hampir semuanya membuka suara. Ada yang tertawa ngikik, tertawa lepas atau hanya sekedar berteriak. Bebas, itu yang mereka rasakan saat itu.

Itu bukanlah hal yang bagus, kawan. Karna sebelum si bapak tadi berangkat, beliau berpesan jangan ada yang ribut selama beliau tak ada di asrama.

Tapi, dasar anak-anak..
Pesan hanya tinggal pesan. Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Hanya ada beberapa yang benar-benar mengikuti pesan si bapak tersebut.

Hukum alam, jika kita melakukan hal yang kurang bagus maka akan mendatangkan hasil yang kurang bagus juga. Semua orang tau itu, tapi hanya beberapa yang menyadarinya. *ellee.. gayanyaa..* :p

Malam semakin beranjak. Si bapak pun akhirnya kembali ke asrama. Tanpa di sadari oleh siapapun. Sialnya saat itu anak-anak sedang menikmati kebebasan "bersuara"nya.

Dimulai dari pintu depan. Terdengar pintu diketuk. Anak yang berada di ruang tamu segera berdiri membukakan pintu dan langsung....

Kemarahan si bapak langsung meluncur tak terbendung. Anak di ruang tamu jadi sasaran pertama. Entah apa yang terjadi, yang pasti ada kemunculan layaknya jurus seribu tangan menyerang anak tersebut. Yang berakhir dengan kondisi anak hanya duduk diam. Meringis sedikit.

Situasi rumah berubah mencekam seketika. Sangat cepat. Seperti sedang mendengar lagu dengan suara speaker yang menggelegar besar dan tiba-tiba seseorang memencet tombol mute. Sepi. Sunyi. Tak ada suara sama sekali.

Oke.
First stage : ruang tamu. Selesai!

Next..
Second stage : ruang tengah.

Disini klo seingat saya ada 2 orang. Yang pertama itu ada anak yang duduk menyandar ke dinding. Sebuah tangan dengan cukup cepat mendarat kepalanya. Tepat.

Ada bagian lucu bagi kami atas kondisi teman kami ini. Baik, coba anda bayangkan saat duduk menyandar di dinding dan kepala anda tetap berdiri tegak, berjarak sekitar 5-10 cm ke dinding. Begitulah posisinya.

Jadi saat tangan ini mengarah ke kepalanya, otomatis akan terpental ke belakang yang dimana disana sudah menunggu dinding. Double strike!

Di ibaratkan, sekali tangan melayang, dua dentuman menyakitkan mengiringi.

Saya rasa teman saya itu "right man on the wrong time and wrong place". Saya tak mendengar dia banyak bersuara saat si bapak pergi. Namun sudah nasib kali ya.. Heuheuheu..

Dan terus berlanjut ke anak-anak berikutnya yang berada di dalam kamar.

Ada kejadian menarik. Waktu itu ada seorang anak yang sedang berpura-pura mau berwudhu. Sementara air di kamar mandi itu tidak ada. Kering. Sungguh percobaan "ambil muka" yang gagal. Haha..

Alhasil, anak yang di kamar mandi itu mendapat ketokan sempurna dari gayung di kepalanya. Ketukan irama 4/4. Nada C minor. Sepertinya. Hehehe..
......


Demikian cerita ini :)
Nanti lain waktu kita lanjut lagi. Dan saya sudah memikirkan judulnya. Yaitu "jejak tangan di sore hari". Teman-teman saya pasti tau betul kisah ini. Hehehe..

Bye :))

Wednesday, 3 April 2013

Uneg-Uneg




Hhhh.. Gw sekarang lagi kurang tenang nulis ini. Agak emosi gitu. Hhh.. *urut dada*

Gw bukannya mau jelek2in seseorang. Bukan itu maksud gw. Ini cuma uneg2. Kita semua pasti punya uneg2 kan? Tapi mungkin sebagian ada yang bisa di pendam, ada yang di omongin, ada yang di lewatin gitu aja. Dan kayaknya kali ini gw gak bisa mendem lagi. Udah males. Juga gak mau ngomong langsung ama orangnya (karna bla bla bla). Dan gak bisa gw lewat2in aja. Udah lama gw pengen nyurhatinnya. Dohh.. -_-

Gw ngeluh? Yah mungkinlah. Walaupun sebenarnya gw tau ini “enggak” banget klo mau ngeluh/curhat lebay di net kayak gini. Misi terselubung gw adalah kali aja dia ngepoin blog gw trus baca ini trus nyadar. Amiin..

Oke, mari kita mulai..

Ustad hendro pernah bilang klo akhlaq itu lebih utama dari ilmu. Setinggi apa pun sekolah, sebanyak apa pun gelar, tapi klo gak sopan ama orang lain, gak menghormati orang lain, itu ilmu kita gak ada nilainya. Percuma. Baca lagi ya, ini buat yang berILMU TINGGI aja harus SOPAN. Harus berakhlaq. Lah ini, belum apa2 udah songong. Hhh.. Maaf.. Jadi gak ini suasananya.. -__-

Gw gak mau nyebut nama orangnya. Ntar jatohnya ghibah lagi. Dosa gw.

Jadi ini si anak ini, udah ngerasa tinggi kali ya ilmu nya. Apalagi kabar2 ny dia mau ke luar negeri. Good news, mudah2n dia bisa berubah pas disana. Amiin.. *cepetan deh perginyaa* :p

Disini gw gak bakal nulis inisial apalagi nama. Tempat dimana nya gak usah di bahas. Kalaupun ada kesamaan, anggap ajalah kebetulan. Karna yang gw alamin ini, adanya di dunia gw.

Kalau ada yang tersinggung, mbok ya berubah. Kasian gw. Sebenernya itu anak yang bikin dirinya sendiri jatoh di mata gw. Ingat ya, hormatilah orang lain maka orang lain pun akan menghormati anda.
Kasarnya nih, ada istilah inggris “rubbish is rubbish”. Sampah adalah sampah. Dan itu tempatnya di tong sampah. Disini gw mau nolongin ini anak biar berubah jadi lebih baik. Biar gak jadi sampah (maap) di mata gw. Tapi ya inilah cara gw :)

Gw mau ngasih sebuah Ilustrasi..

Tersebutlah di sebuah padepokan silat. Disana mudirnya di ajari jurus2. Dipimpin oleh seorang guru besar dan beberapa orang yang jadi asisten si guru besar. Asisten ini masih muda2. Mereka ini turut membantu ngajarin beberapa jurus.

Peraturan di padepokan ini, bagi anak yang udah nguasain 22 jurus maka otomatis langsung di angkat jadi asisten. Dan ada seorang anak yang udah nguasain 22 jurus lalu di angkatlah jadi asisten. Dia asisten muda di antara asisten senior tadi.

Sejatinya, si anak ini walaupun udah jadi asisten, harus menghormati asisten yang lebih tua, gitu kan? Walaupun jurus yang di kuasain sama. Walaupun gelarnya sama2 udah asisten. Bener gak?

Disini ada sedikit konflik, si bocah ini anteng aja ngerasa sama. Padahal baru jadi asisten. Songongnya kelewatan dah..

Dan buat di ketahui nih, anak ini gak sendirian yang di usia muda udah nguasain 22 jurus. Ada lah satu anak yang di angkat jadi asisten juga. Nah dia ini baik. Hormat dengan asisten lain yang lebih tua. Ini gw namain tau diri. Padahal bisa di bilang anak ini prestasinya banyak, udah pernah ke mekkah, juara disana sini. Gak ada apa2 nya di banding anak yang songong tadi. Tapi hormatnya itu… *prok prok*

Namun sayangnya ini anak udah pindah ke padepokan lain.

Nah gw mau tanya, anda seneng dengan anak yang tau diri atau yang satunya?
Gimana klo ini kisah nyata?
Gimana klo anda yang ngalamin?
Gimana klo ada bocah yang gak menghargai anda, padahal jelas2 dulu dia belajar sama anda?

Marilah kita berdoa semoga anak ini cepat berubah. Cepat menyadari siapa dirinya dan siapa orang2 di sekitarnya. Amiin..

:)